Friday, August 18, 2017

Bill Liddle dan Sikap Peneliti Asing

Kompas, Rabu, 14 Juli 2004
Bill Liddle dan Sikap Peneliti Asing

Oleh Haidar Bagir

SAYA tak berkeberatan para peneliti asing meneliti tentang Indonesia. Sama seperti saya tak berkeberatan seorang peneliti non-Muslim berbicara tentang Islam. Kadang kita perlu tahu perspektif orang luar tentang kita. Apalagi jika peneliti asing itu seseorang yang benar-benar memiliki pengetahuan dan wawasan memadai. Saya percaya, peneliti "luar"-pun punya kesempatan untuk memahami dengan baik obyek penelitiannya, apakah itu tentang bangsa atau agama lain.

Namun, saya akan amat berkeberatan jika peneliti asing itu kurang memiliki kesadaran fenomenologis atau-dinyatakan secara terus terang-merasa sok tahu terhadap anggota masyarakat yang ditelitinya. Inilah yang saya khawatirkan terjadi dengan sementara peneliti asing tentang Indonesia, yang menyebabkan sebagian masyarakat kita berkeberatan dengan kiprah mereka. Dalam membincangkan persoalan ini, artikel saya akan mengambil kritik Kwik Kian Gie atas sikap William (Bill) Liddle, "Indonesianis" terkemuka yang penampilannya dalam pemilu lalu amat menonjol dan berbagai komentarnya menyodok ke sana-sini, sebagai titik tolak.
SAYA mulai dengan pengalaman pribadi-yang sebenarnya tak banyak-dengan Pak Bill. Suatu kali beliau berkunjung ke kantor koran tempat saya saat itu bekerja, kira-kira tujuh tahun lalu.

Entah karena "nasionalisme" saya yang tinggi atau karena kekesalan saya terhadap sikap umum peradaban "Barat" yang terkesan kurang menghargai bangsa-bangsa di dunia ketiga, saya mengejutkan beberapa kolega saya yang hadir dengan menanggapi secara emosional lontaran-lontaran pandangan Pak Bill tentang politik Indonesia saat itu. Namun, saya ingat benar, sikap saya muncul dari kesan yang saya tangkap bahwa Bill Liddle saat itu berbicara tentang Indonesia, di depan orang-orang Indonesia yang terpelajar, dengan gaya menggurui. Mungkin saya saja yang kurang berpengalaman bergaul dengan mereka yang biasa dipanggil sebagai "Indonesianis" sehingga kaget melihat cara berbicaranya. Atau, bisa jadi Bill Liddle sudah merasa diterima masyarakat dan media massa Indonesia sehingga tak kikuk bergaya demikian.

Beberapa waktu kemudian saya menjadi moderator sebuah diskusi yang menghadirkan Prof John L Esposito, ahli dunia Islam dari John Hopkins University. Saat itu saya melihat Bill Liddle hadir di sana. Maka, demi menghormati beliau, saya memberi kesempatan kepadanya untuk memberi tanggapan pertama. Namun, apa yang terjadi setelah diskusi usai?

Ketika saya menyalaminya, dia menyatakan, "Anda mau mengadu saya dengan Esposito?" Dia mungkin mengira saya menjadikan Esposito yang-seperti biasa-berbicara secara empatik dan simpatik tentang masyarakat Islam, termasuk di Indonesia, sebagai "jago" saya untuk menghadapinya. Di benak saya berkata, "Orang-orang seperti ini mungkin sulit berpikir bahwa orang Indonesia-orang "Timur" atau dunia ketiga-bisa berdemokrasi. Bahwa, bisa saja kita berbeda pendapat dengan seseorang tanpa mesti kehilangan apresiasi kepadanya."

Maka, kesan saya tentang sikap (maaf!) sok pintar Bill Liddle, apa boleh buat, menjadi kian kuat. (Belakangan, lewat Saiful Mujani, salah seorang muridnya, yang kebetulan juga tersenggol kritik karena sering tampil di sebuah media TV, antara lain bersama sang guru, Liddle menyatakan, komentarnya itu sebenarnya cuma bercanda. Mudah-mudahan).

Setelah kejadian itu, saya masih mendapati Liddle tak meninggalkan "gaya khas"-nya dalam berbagai kesempatan berbicara tentang Indonesia. Namun, sebelum mengungkap lebih jauh, ada baiknya saya ungkap serba sedikit pandangan-yang sudah menjadi mainstream dalam penelitian ilmu sosial sekarang-tentang bagaimana seorang peneliti asing seharusnya bersikap sehubungan dengan obyek yang ditelitinya.
Kita sudah mafhum tentang kritik keras dan terkenal yang diungkap Edward Said terhadap orientalisme. Kita tahu, dalam berbagai karyanya, Said berbicara tentang sikap "Barat" terhadap bangsa-bangsa "Timur" yang amat kental diwarnai semangat kolonialisme. Kita ingat betapa Said mengungkap kekagumannya kepada Syed Husin al-Attas yang dianggap mampu mengungkap kecenderungan model begini terhadap bangsa Melayu, dalam buku The Myth of Lazy Natives (Mitos Melayu Malas).

DI sisi lain, sudah lama berlalu sejak para peneliti ilmu sosial mempromosikan keniscayaan bukan hanya sikap empatik, tetapi keharusan menjadikan pendapat obyek penelitian sebagai tolok ukur kebenaran.
Tersebutlah Wilfred Cantwell Smith, seorang pengkritik orientalisme dan kolonialisme intelektual, sebelum Said. Ahli kajian agama, yang juga memberi perhatian khusus kepada Asia Tenggara, ini berpendapat, tak ada satu pun studi tentang orang lain bisa dikatakan benar kecuali jika orang itu mengatakan "ya (itu benar)" atasnya.

Sayang, tidak demikianlah sikap yang banyak ditunjukkan oleh sementara peneliti asing. Sebagian di antara mereka malah mengesankan sikap tinggi hati dan cenderung meremehkan bangsa-bangsa yang menjadi obyek penelitiannya, meski mungkin sikap itu tertanam di pikiran bawah sadar mereka.

Melanjutkan contoh tentang Liddle, saya ingat benar, dalam salah satu tulisannya di harian ini, ia pernah menyatakan-disebutnya sebagai bersumber dari Clifford Geertz, "gurunya"-orang Indonesia "suka mengkritik pemimpinnya". Karena itu, katanya dalam tulisan yang sama, ia tak lagi mau ikut-ikutan (orang Indonesia) mengkritik Gus Dur yang saat itu menjadi pemimpin negeri ini. Betapa stereotipikalnya dan (saya terpaksa berkata) betapa downgrading-nya!

Contoh terakhir, diskusinya dalam Suara Anda (salah satu talk show sebagai bagian program Election Channel di Metro TV) yang banyak menampilkan para pengamat yang tak lain murid Liddle di Ohio University dan kabarnya memang dikoordinatori murid Liddle.

BERBICARA tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama salah seorang fungsionaris partai itu, Zulkiflimansyah, Liddle begitu liberal melontarkan komentarnya tanpa merasa perlu mengecek kepada partisipan PKS yang ada di depannya. Di antara salah satu komentarnya, yang segera dibantah habis-habisan oleh Zulkiflimansyah, adalah keterkejutannya, PKS akhirnya memutuskan mendukung pasangan Amien-Siswono. Padahal, katanya, PKS sudah lama bekerja sama dengan Amien sehingga mestinya tahu persis bahwa "Amien tak akan bisa menjadi presiden yang baik". Dan itu sama sekali bukan satu-satunya pendapat Liddle yang dibantah Zulkiflimansyah pada acara tersebut.

Boleh jadi, kesan kita tentang Bill Liddle haruslah berhenti sebatas kesan. Seorang teman penulis, yang kebetulan teman Liddle, pernah mencoba menjelaskan hal ini dengan mengatakan, temperamen Bill Liddle adalah temperamen orang "Medan" yang ceplas-ceplos. Mudah-mudahan demikian. Meski, kalau benar, hal tersebut tak lantas menjadikan diskusi kita tentang peneliti yang satu ini, dan peneliti asing umumnya, menjadi tidak lagi memiliki poin.

Sebagai peneliti asing, sebagai "tamu", sudah sepatutnya jika Liddle berusaha menjadi-melanjutkan tamsil di atas-lebih berhati-hati agar sikap "sok tahu" dan "sok pintar" yang kemudian menonjol. Apalagi, tidakkah seharusnya seorang peneliti, apalagi yang sudah dianggap sekaliber Bill Liddle, bersikap lebih berhati-hati dan tidak ceroboh dalam mengeluarkan aneka pernyataan tentang "tuan rumah"-nya? Sebagai gantinya, dia harus lebih banyak menggali pandangan kelompok yang ditelitinya dengan semangat penuh empati dan apresiasi.
Meski berfokuskan Bill Liddle, yang kebetulan ada di tengah spot light wacana kritik terhadap peneliti asing belakangan ini, artikel ini bukan hanya tentang beliau. Bukan hanya bagi peneliti asing yang lain, kiranya semua ini bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja, termasuk kita, agar terus memelihara sikap empatik dan rendah hati kapan saja kita meneliti dan memberikan pendapat tentang kelompok lain. Tabik, Pak Bill!


Haidar Bagir Ketua Yayasan Lazuardi Hayati

Sunday, July 2, 2017

ALMI DISKUSIKAN BERBAGAI WAJAH KETIMPANGAN

Najib Burhani memaparkan kasus ketimpangan dalam konteks agama

21 June 2017
Jakarta- Isu ketimpangan seringkali hanya dikenali sebagai permasalahan ekonomi, terutama ketika Badan Pusat Statistik merilis informasi tentang kenaikan rasio gini yang menandai besarnya jarak pendapatan masyarakat. Padahal ketimpangan terjadi dalam berbagai  dimensi, tak melulu soal perekonomian, tetapi juga merambat ke bidang kesehatan, pendidikan, hingga masalah religiusitas. Membahas isu ini, Akademi Ilmuwan Muda Indonesia bekerja sama dengan Knowledge Sector Initiative menyelenggarakan diskusi bertema “The Multiple Faces of Inequality” pada 21-22 Mei 2017 lalu, di Jakarta.
Anggota ALMI, Firman Witoelar, mengatakan bahwa masalah ketimpangan yang  mempengaruhi berbagai aspek seperti kesehatan, pendidikan, kesempatan berkarier, dan pendapatan seringkali diwariskan kepada generasi berikutnya. “Tetapi peneliti belum banyak mengetahui tentang ketimpangan yang diwariskan antargenerasi (intergenerational inequality) di Indonesia,” ujarnya. Oleh sebab itu, isu ketimpangan menjadi permasalahan yang menarik untuk diteliti dari berbagai topik.
Pada sesi kedua, anggota ALMI Najib Burhani memaparkan kasus ketimpangan dalam konteks agama. “Ketimpangan dan diskriminasi dalam konteks agama dan kepercayaan lebih kompleks karena seringkali tidak disadari oleh pelakunya,” kata peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut.  Contohnya, menyebut masyarakat yang memeluk kepercayaan/agama lokal sebagai penganut animisme dan dinamisme dianggap hal yang normal. Padahal jika dilihat dari perspektif lain, hal itu merupakan bentuk diskriminasi, terutama pada saat pemeluknya kesulitan mendapat hak sebagai warga negara seperti KTP, akta kelahiran.
Setelahnya, Corry Elyda, perwakilan jurnalis dari The Jakarta Post menyebutkan bahwa isu ketimpangan saat ini belum menjadi isu yang “seksi” bagi media. Padahal banyak fragmen ketimpangan yang bisa dilihat dalam berita-berita pembangunan, berita perekonomian, dan kesehatan. “Jurnalis sangat membutuhkan data, riset evaluasi program atau kebijakan pemerintah dalam menulis isu ketimpangan,” ujar dia. Selain itu partisipasi publik serta kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk antara media dengan ilmuwan juga diperlukan untuk membangun kesadaran tentang ketimpangan dan cara mengatasinya.
Presenter terakhir, Yanuar Nugroho menyampaikan bahwa ketimpangan kerap disamakan dengan ketidakadilan, padahal sebenarnya berbeda. “Masalah ketimpangan sebenarnya tidak bisa diatasi dengan kebijakan yang mengedepankan kesetaraan karena starting point masyarakat sudah berbeda-beda,” tutur Deputi II Bidang Pengelolaan dan Kajian Program
Prioritas, Kantor Staf Presiden itu. Menurut dia, kelompok marjinal tidak akan bisa mengejar ketertinggalan dari kelompok yang lebih maju jika diperlakukan sama. Ketimpangan perlu diatasi dengan kebijakan yang dapat mendorong masyarakat mengejar ketertinggalannya.
Sejumlah contoh kebijakan yang ditargetkan mengatasi ketimpangan di antaranya adalah Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, serta Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Kebijakan conditional cash transfer ini diambil agar masyarakat juga perlahan-lahan mampu mengatur keuangan dan mengalokasikan pendanaan sesuai kebutuhannya.

Anggrita Desyani
http://almi.or.id/2017/06/21/almi-diskusikan-berbagai-wajah-ketimpangan/

Thursday, March 16, 2017

Arah Penelitian Keagamaan di Indonesia

JARE Institute, 16 Maret 2017









Bincang Santai JARE Institute

Selasa, 14 Maret 2017

Pada prinsipnya, penelitian keagamaan dapat mencakup hal-hal apa saja, dari doktrin normatif hingga praktik keseharian yang bersifat historis. Antara agama yang bersifat normatif-sakral dengan praktik keagamaan yang bersifat historis-profan, mempunyai hubungan yang tak dapat dipisahkan. Praktik keagamaan lahir dari tafsir terhadap agama, antara satu penafsiran dengan penafsiran yang lain bisa saja berbeda.
Penelitiaan keagamaan, dewasa ini, tidak lagi didominasi penelitian normatif sebagaimana banyak ditemukan dalam hasil penelitian yang lalu-lalu. Penelitian keagamaan tak lagi dilihat sebagai aktifitas mengkaji agama secara normatif, bicara hitam-putih, dan salah-benar. Agama sebagai realitas sosial, meliputi praktik, pemahaman, struktur bangunan, dan sebagainya dapat dijadikan obyek penelitian keagamaan. Jadi, yang perlu dipahami, penelitian keagamaan tak hanya terbatas pada persoalan haral-haram, namun juga mencakup praktik keseharian.
Lalu, bagaimana dengan penelitian keagamaan di Indonesia? Ke mana arah penelitian keagamaan di Indonesia masa depan? Apa saja isu-isu yang layak diteliti dan dikaji? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan terjawab pada hari Kamis, 16 Maret 2016.
Jare Instutute akan melaksanakan diskusi santai tapi berbobot, bertajuk “Bincang Santai” bersama salah satu peneliti senior LIPI, A. Najib Burhani. Najib akan membincang persoalan arah penelitian keagamaan di Indonesia. Untuk itu, bagi Anda yang ingin mengetahui jawaban-jawaban pertanyaan di atas, Jare Institute mengundang Anda untuk hadir ke acara tersebut. Bertempat di Virlib Perpustakaan STAIN Kediri, kegiatan ini akan dimulai pada jam 13.00 WIB.

http://www.jareinstitute.com/bincang-santai-jare-institute/

Wednesday, March 15, 2017

Kuliah Literasi Dosen IAIN Tulungagung

Kuliah Literasi Dosen IAIN Tulungagung, 15 Maret 2017







Kuliah Literasi Dosen


KULIAH LITERASI DOSEN
Untuk kesekian kalinya saya mengikuti semacam pelatihan menulis, kali ini diberi judul “Kuliah Literasi Dosen: Strategi Menulis Artikel di Jurnal Bereputasi”. Sangat keren sekali tema yang diusung terlebih dengan pembicara seorang peneliti “senior” LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang bernama Ahmad Najib Burhani, MA., M.Sc., Ph.D. seseorang yang dikenalkan berasal dari sebuah desa kecil di Blitar, tepatnya desa Gandekan kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar, namun sekolah lebih lama di luar negeri. Di tengah gonjang-ganjing tuntutan kewajiban menulis bagi dosen dengan pangkat Lektor Kepala ke atas di jurnal bereputasi acara tersebut cukup mendapat sambutan yang baik, terlebih jika diukur dari bahwa kegiatan kuliah literasi tersebut hanya disiapkan 2 hari oleh LP2M IAIN Tulungagung dan itu pun karena pada hari yang sama pembicara sudah diminta bicara dalam tema yang lain dari lembaga yang lain. Dengan penjelasan singkatnya Dr. Ainun Na’im, M.HI., dari Puslit LP2M mengantarkan diskusi tersebut sekaligus menjadi moderator acara kuliah tersebut.
Menulis jurnal agar bisa tembus (terbit) ke jurnal bereputasi itu perlu trik-trik tertentu, mengikuti pola-pola tertentu sesuai dengan jurnal apa yang ingin dituju, kata Ahmad Najib memulai penjelasannya. Banyak sekali tema-tema lokal yang sangat menarik, perlu ditulis, belum pernah ditulis dan dunia internasional perlu untuk mengetahuinya. Hal itu pulalah yang sering terjadi, banyak peneliti asing yang mengangkat tema-tema lokal tersebut, mereka kaji, mereka teliti dan justru merekalah yang menerbitkannya pada jurnal-jurnal internasional, paparnya melanjutkan.
Kemampuan seseorang mengangkat tema lokal dengan frame global membuat sesuatu yang semula dipandang sederhana menjadi jauh lebih menarik. Tema-tema lokal yang mampu dikoneksikan dengan apa yang dikerjakan oleh orang-orang lain di dunia yang lain, kemampuan seorang penulis menyambungkan tema-tema lokal menjadi tema besar inilah yang seringkali membuat tulisan menjadi menarik. Hal yang biasa di suatu tempat menjadi baru di tempat yang lain dengan kemasan yang baik.
Dalam hal menuliskan abstrak jurnal Ahmad Najib memberikan tip sebagai berikut, seringkali abstrak itu hanya ditulis asal-asalan bahkan tidak jarang hanya berisi rangkuman yang kurang penting dari jurnal. Seharusnya abstrak ini selayaknya thriler dari sebuah film, harus mampu menggugah keinginan penonton setelah menonton 1 menit pertama. Abstrak harus mampu membuat pembaca untuk melanjutkan bacaannya dan merasa perlu untuk mendapatkan isi lengkap dari jurnal tersebut. 
Abstrak bukan sekedar formalitas yang harus ada dalam sebuah jurnal tapi itu harus dibuat semenarik mungkin, tawaran baru apa dari jurnal harus nampak dalam abstrak. Kalau toh tema dari jurnal itu sudah banyak dibahas maka abstrak harus memberikan perspektif perbedaan apa yang hendak diberikan dalam jurnal tersebut. Setidaknya abstrak juga dapat dengan cara memberikan tantangan terhadap pendapat yang selama ini sudah umum, menjadi kesimpulan khalayak dengan memberikan alternatif pendapat dan pemikiran, dapat dengan berupa pertanyaan menarik atau statement yang tidak biasa.
Tidak kalah penting adalah menuliskan pendahuluan dalam jurnal. Harus ada yang baru dalam menulis jurnal, kekayaan literatur dan pengalaman empiris penulis bisa ditampilkan pada pendahuluan untuk memberikan kesan otoritatif penulis dalam membahas hal yang hendak diangkat dalam jurnal. Hal ini penting untuk meyakinkan pembaca terhadap penulis tentang tema apa yang hendak di bahas.
Seorang akademisi hendaknya memiliki list (daftar) jurnal yang terkait dengan bidang keilmuannya, hal ini sangat penting tidak saja untuk memberikan pilihan pada jurnal mana dia memilih untuk menerbitkan artikelnya, setidaknya ia dipaksa akan selalu up date terhadap isu, tema dan ide-ide terbaru yang sedang dibahas dari daftar jurnal-jurnal yang dia miliki. Dengan list tersebut seseorang akan terhindar dari jurnal-jurnal predator atau saya lebih suka menulis dengan jurnal abal-abal. 
Berapa idealnya seorang akademisi menghasilkan artikel dalam setahun? Tidak ada patokan yang pasti namun menurut Ahmad Najib, 2 artikel dalam satu tahun itu sudah banyak. Secara rinci beliau mencontohkan banyak buku berkualitas yang dimulai dari tulisan artikel dalam jurnal yang sudah disempurnakan. Bahkan tidak jarang Ahmad Najib memulai ide menulis itu dari tulisan sederhaha di kolom koran harian. Dari tulisan kolom di koran harian tersebut dia biasanya akan mendapat banyak masukan, baik itu mendukung atau mengkoreksi tulisannya, selanjutnya dari berbagai masukan, koreksi dan tambahan referensi tersebut dia menulis artikel untuk kualitas jurnal, terkadang dia lanjutkan lagi menulis artikel jurnal dalam bahasa asing. Masukan dari reviewer jurnal dan pengendapan beberapa waktu terkadang mampu meningkatkan kualitas tulisan jurnal tersebut, paparnya. Satu tema yang terus dikawal dan dibahas lebih tuntas terasa lebih baik dari pada seseorang terus berpindah-pindah dari satu tema ke tema yang lain sebelum benar-benar tuntas membahasnya.
Secara umum “Kuliah Literasi Dosen” kali ini selalu menambah adrenalin saya untuk segera menulis secara teratur, sebagaimana petutupan acara tersebut disimpulkan oleh Dr. Ainun Naim, untuk memperbaiki dan menghasilkan tulisan/artikel yang baik itu hanya ada 3 cara yaitu menulis, menulis dan menulis. Waallua’lam bisidqi...
Tulungagung, 15 Maret 2017
M Arif Faizin

https://www.facebook.com/marif.faizin/posts/10208277803094661