Monday, November 16, 2020

Scopusisme dan Angka Kredit

 Ahmad Najib Burhani

Profesor Riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Beberapa waktu lalu kami melakukan penilaian terhadap pengajuan Angka Kredit (AK) orang-orang yang hendak naik pangkat atau jabatan. Dari penilaian tersebut, terdapat beberapa isu yang sebetulnya sudah sering muncul yang juga menjadu perdebatan di berbagai media massa. Di antaranya:

Pertama, artikel di jurnal yang terindeks Scopus, tetapi memiliki kualitas buruk dan bahkan tidak layak disebut sebagai karya ilmiah.

Kedua, artikel yang diterbitkan di jurnal luar negeri dan berbahasa Inggris, tetapi memiliki kualitas dan penampilan yang rendah bahkan kalah jauh dari naskah berbahasa Indonesia di jurnal nasional. Apakah tulisan seperti ini bisa diberikan nilai sebagai bagian dari penerbitan internasional terindeks yang kum-nya lebih tinggi dari jurnal nasional?

Ketiga, ada beberapa jurnal yang memakai nama “International Journal …” dan orang yang tulisannya terbit di jurnal tersebut menuntut agar artikelnya dinilai sebagai tulisan yang terbit di jurnal internasional dan mendapatkan AK tinggi.

Jika Anda berposisi sebagai assessor atau penilai, apa yang Anda lakukan sementara buku petunjuk yang dijadikan pegangan tidak mengatur ha-hal detail seperti itu?

Saya tidak hendak memberikan jawaban terhadap persoalan itu secara detail dalam tulisan ini. Saya justru ingin menunjukkan persoalan lain yang sering menjadi kontroversi, yaitu terkait biaya penerbitan. Sejauh pengalaman saya menerbitkan tulisan di beberapa jurnal internasional bereputasi, tidak pernah sekalipun dan se-rupiah pun saya diminta untuk membayar biaya penerbitan. Namun, ada beberapa jurnal yang meminta sejumlah uang dan kadang disebut sebagai Article Processing Charge (APC).

Article Processing Charge (APC)

Beberapa jurnal bahkan meminta APC ini dalam jumlah yang fantastis, yaitu antara 15 sampai 30 juta rupiah. Jika artikelnya lebih dari 10 halaman, maka penulis akan diminta tambahan biaya. Jika penulisnya lebih dari satu orang, maka akan ada lagi tambahan biaya.

Hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah bahwa beberapa jurnal yang meminta bayaran sangat tinggi itu memiliki frekuensi penerbitan sangat banyak. Ada jurnal yang menerbitkan hingga 24 edisi atau isu dalam setahun, ditambah 12 edisi khusus atau special issue. Totalnya ada 36 edisi dalam satu tahun.

Artinya, jurnal ini terbit sebulan tiga kali. Berapa jumlah artikel dalam setiap edisi? Jurnal itu bisa menerbitkan 70 sampai 100 artikel dalam setiap edisi. Berapa halaman untuk masing-masing artikel? Sangat bervariasi, tapi empat atau enam halaman pun bisa terbit. Jika dalam setahun ada 36 edisi dan dalam setiap edisi ada 70 artikel, maka berapa uang yang dikumpulkan oleh jurnal ini dari penulis yang diminta membayar hanya 10 juta rupiah saja untuk setiap artikel?

Makanya, seorang guru besar yang sangat berintegras dan bereputasi tinggi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sampai menuliskan hal berikut ini di Facebook:

Sekarang kalau ingin publikasi di jurnal terindeks Scopus gampang bin mudah sekali. Ada calo atau sindikat yang mengurusnya. Orang yang tidak punya sama sekali paper pun bisa. Tinggal pilih dari ratusan artikel yang ditawarkan. Tidak mahal-mahal amat sebenarnya. Rp. 21 juta sebagai penulis tunggal. Kalau kolaboratif, tinggal dibagi beban 21 juta itu. Ironisnya artikel banyak di-supply dari negara tetangga.

Kalau punya artikel, walaupun buruk kualitasnya dan masih dalam bahasa Indonesia, bisa juga diolah oleh sindikat calo untuk segera terbit. Yang mengolah naskah sering muncul sebagai penulis kedua atau ketiga dan karena banyak dapatlah dia penghargaan sebagai penulis produktif di Scopus. Tarifnya lebih murah. Dosen kita banyak yang terjebak ke sini.

Tiba-tiba ada lonjakan publikasi di International Journal of Innovation, Creativity and Change, International Journal of Psychosocial Rehabilitation, Talent Development and ExcellenceInternational Journal of Advanced Sciences and Technology, misalnya, dan masih banyak lagi. Lalu, juga terjadi lonjakan pengusulan guru besar. What a coincidence!

Teman-teman pengelola jurnal PTKIN hebat-hebat, karena sudah bisa membawa 4 jurnal ke Q1, dan 1 ke Q2. Saya angkat topi. Luar biasa. Tapi harus hati-hati juga. Kadang-kadang saya temui tulisan-tulisan yang diusulkan sebagai syarat GB (Guru Besar) dari jurnal-jurnal itu, ya, kurang memenuhi standar tulisan yang bagus dari sisi bahasa dan substansi. Jadi, perhatian penuh harus tetap diberikan untuk memastikan keterjaminan substansial mutu tulisan dan jurnal itu sendiri. Menarik, ada banyak jurnal bagus-bagus terbitan Oxford, Brill, Cambridge, dan lain-lain dengan tulisan-tulisan yang bagus masih nangkring di Q3 bahkan Q4.

Jurnal Predator

Persoalan biaya penerbitan atau APC itu barangkali masih menjadi perdebatan. Beberapa kawan dari ilmu eksakta menyebutkan bahwa jurnal-jurnal yang terkait ilmu eksakta memang meminta biaya penerbitan. Saya tidak mengecek apakah itu adalah jurnal yang betul-betul bereputasi atau tidak. Namun, penilaian utama apakah sebuah jurnal itu predatori/abal-abal atau jurnal yang ilmiah yang benar adalah pada proses peer-review (review atau penilaian dari akademisi lain) yang ketat. Jika itu dilakukan hanya sekadarnya atau bahkan tidak dilakukan sama-sekali, maka tidak ada jaminan terhadap kualitas dari artikel yang diterbitkan.

Ada seorang dosen yang membuat status di Facebook (19 Juni 2020) bahwa tulisannya sudah terbit di jurnal Humanities & Social Sciences Review dan disebutkan bahwa jurnal ini baru saja naik peringkatnya dari Q2 ke Q1. Berbagai ucapan selamat pun dialamatkan kepadanya, termasuk ucapan bahwa penulis artikel itu bisa segera mengajukan diri sebagai guru besar.

Saya lantas curious ingin membaca naskah yang terbit tersebut. Betapa terkejutnya ketika melihat naskah yang terbit tersebut. Hanya lima halaman dengan Bahasa Inggris yang amburadul. Naskah ini hanya berisi kutipan dan daftar kosa kata. Cara menulis referensi, baik body note maupun bibliography, hampir semua tak beraturan. Kualitas bahasa yang dipakai sangat buruk dan tidak diedit sama sekali. Bagaimana dengan isinya? Mungkin makalah anak S1 yang baru belajar membuat makalah pun masih lebih baik dari naskah tersebut. Bagaimana naskah seperti itu bisa terbit di jurnal Q1 Scopus?

Scopusisme

Di tengah booming jurnal abal-abal, membedakan antara jurnal yang bereputasi dengan predatory journal itu relatif mudah. Dengan melihat penampilan fisik dari beberapa jurnal saja kita bisa memberikan penilaian. Di antaranya: penampilan website, Bahasa Inggris yang dipakai, dan layout dari artikel.

Beberapa jurnal yang diragukan reputasinya itu sering kali di-layout sederhana atau tidak memakai layout sama sekali. Ia seperti langsung menggunakan Microsofts Word dan kemudian atasnya ditempeli logo jurnal. Website yang dipakai pun sangat sederhana dan biasanya memiliki banyak terbitan jurnal sekaligus dalam websitenya.

Bagaimana dengan bahasa Inggris yang dipakai? Banyak yang bahasanya seperti terjemahan melalui google translate atau bahkan lebih buruk lagi. Kadang masih ditemukan kata-kata yang tidak diterjemahkan oleh google translate dan terlewat untuk diperbaiki.

Ada juga jurnal yang berpenampilan bagus, dengan editor dari ilmuwan-ilmuwan bereputasi, namun menjadikan penerbitan jurnal seperti industri. Jumlah edisinya dalam setahun sangat banyak dan seperti tak ada batasan jumlah artikel dalam setiap edisi. Dan lagi, jurnal ini menarik APC super mahal. Apakah ini jurnal predator? Saya tidak tahu jawabannya. Perlu dilihat pada proses peer-review yang dilakukan.

Namun, jika saya diminta menulis di jurnal seperti ini, pasti saya tak mau mengeluarkan uang sebanyak itu. Ini adalah model jurnal dalam posisi blur atau abu-abu. Contoh dari jurnal model ini adalah beberapa jurnal yang diterbitkan MDPI.

*

Ketika persoalan ini diangkat di Facebook sebuah jurnal di Jakarta, ada catatan seseorang (28 Juli 2020) yang sangat menarik terkait jurnal-jurnal yang diterbitkan MDPI:

Tahun lalu dan awal tahun ini, kami (beberapa kolega dari Luar Negeri dan saya) sudah memiliki dua artikel yang diterbitkan di Jurnal MDPI, i.e. Water dan Sustainability, keduanya memiliki IF 2.5-an, not bad sebenarnya.

Namun, sedari awal saya agak ragu dengan prosesnya yang memang cepat. Tiba-tiba setelah beberapa minggu langsung accepted for publication, dan setelah di handle tim produksi disebutkan biaya penerbitannya CHF 1,600 (kalau dirupiahkan cukup mahal juga), dan saya juga tidak tega mereka (MDPI) terus menanyakan biaya publikasi ke kolega saya tersebut (corresponding author-nya) dikarenakan proses pencairan dana publikasi dari Universitas dia kerja ‘mungkin’ agak lama dan butuh proses.

Nah, dikarenakan sering di-email untuk segera bayar, dari situ saya agak meragukan kualitas jurnal-jurnal yg diterbitkan MDPI. Ternyata benar dengan berita yang diposting JMB (Jurnal Masyarakat dan Budaya). So, bagi Bapak/Ibu semua yang hendak menerbitkan artikelnya dan bebas biaya bayar, sebaiknya cari Jurnal dan Penerbitnya yang masih memiliki kebijakan closed access, dan kalaupun open access (kita siap untuk membayar) dipastikan saja jurnalnya yang memang bagus dan penerbitnya memiliki reputasi baik, i.e. Elsevier, Springer, etc …

Banyaknya jurnal predator itu di antaranya yang menyebabkan beberapa orang menolak persyaratan kenaikan pangkat atau jabatan dengan menulis di jurnal terindeks Scopus.

Barangkali, yang perlu ditolak adalah Scopusisme, bukan menggunakan indeks Scopus. Hal yang perlu ditolak adalah pandangan bahwa semua tulisan yang terbit di jurnal terindeks Scopus adalah tulisan yang bermutu. Menolak indeksing secara total akan mengembalikan kita ke jaman purbakala. Kita perlu menolak ajakan taklid buta atau mengambil Scopus secara taken for granted. Akan tetapi, kita tak perlu menolak secara total atau membakar indeksing itu.

JIBPost, 16 Nov 2020, https://jibpost.id/2020/11/16/scopusisme-dan-angka-kredit/